Tampilkan postingan dengan label islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islami. Tampilkan semua postingan

SUBHANALLAH 600 Wagar Cina Jadi Muslim


Setelah melihat Ka'bah dari televisi, tiba-tiba hati mereka bergetar. Pintu hidayah seakan terbuka. Dan Allah SWT pun melapangkan jalan mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Lebih dari 600 pekerja asal Cina berpaling menjadi Muslim setelah mendapatkan pengalaman spiritual di Arab Saudi.

Mereka adalah bagian dari 4.600 warga Cina yang sedang mengerjakan proyek rel kereta api yang menghubungkan Makkah dan Madinah. Rel kereta itu nantinya akan melalui Jeddah dan Khum. Peristiwa yang sempat menghebohkan itu terjadi tahun lalu.


Awalnya, kedatangan ribuan pekerja Cina itu sempat dipertanyakan warga Arab Saudi. Pasalnya dari 4.600 pekerja itu hanya 370 orang yang Muslim. Warga meminta agar pemerintah mempekerjakan buruh Cina yang beragama Islam. Namun Allah mempunyai rencana lain dengan kedatangan para pekerja itu.

Kedatangan ke Arab Saudi ternyata membuka peluang bagi mereka untuk melihat Islam langsung dari tanah tempat agama ini diturunkan. Seperti yang dikatakan seorang pekerja yang telah menjadi Mualaf. Pekerja yang telah mengganti namanya menjadi Hamza (42) ini mengaku tertarik pada Islam setelah melihat Ka'bah untuk kali pertama di televisi Saudi. ''Ini menggetarkan saya. Saya menyaksikan siaran langsung sholat dari Masjidil Haram dan umat Islam yang sedang berjalan memutari Ka'bah (tawaf),'' katanya.

''Saya bertanya ke teman yang Muslim tentang semua hal ini. Dia kemudian mengantarkan saya ke Kantor Bimbingan Asing yang ada di perusahaan, di mana saya memiliki kesempatan untuk belajar tentang berbagai aspek mengenai Islam,'' tuturnya. Kini Hamza merasa lebih bahagia dan lebih santai setelah menjadi seorang Muslim.

Pekerja lainnya, Ibrahim (51), mengalami peristiwa yang hampir serupa pada September tahun lalu. Dia yang bekerja di bagian pemeliharaan perusahaan negara, Kereta Api Cina, menjadi seorang Muslim usai melihat Ka'bah. ''Meskipun kami berada di Cina, kami tidak memiliki kesempatan untuk belajar tentang Islam. Ketika saya mencapai Mekah, saya sangat terkesan oleh perilaku banyak warganya. Perlakuan yang sama bagi orang Muslim dan non-Muslim memiliki dampak besar pada saya,'' tambahnya.

Sementara, Abdullah Al-Baligh (51), terinspirasi untuk memeluk Islam setelah melihat perubahan positif dari rekan-rekannya yang lebih dulu menjadi mualaf. ''Enam bulan setelah saya tiba di Makkah, saya melihat bahwa rekan saya, yang sudah menjadi Muslim, telah benar-benar berubah. Tingkah lakunya patut dicontoh. Saya menyadari bahwa Islam adalah kekuatan penuntun di balik perubahan tersebut,'' ujarnya.

''Ketika saya bertanya padanya, ia mengatakan bahwa ia sama sekali tak tahu tentang agama ini selama di Cina. Sekarang, ia memiliki pemahaman yang tepat tentang Islam dan ingin menjadi lebih teladan.''

Begitu pula dengan Younus. Pekerja asal Cina ini baru mempelajari Islam ketika berada di Makkah. ''Islam di Cina begitu kurang. Aku baru mengetahui Islam setelah datang ke Saudi,'' ujarnya.
sumber: forumkami

Tanda kebesaran Allah / Siksa kubur ?

Di photo ini adalah seorang pemuda berusia 18 tahun yang meninggal di salah satu rumah sakit di oman. The corpse of the boy has been dug out from a tomb in 3 hours after his funeral under the insisting of his father. Mayat pemuda tersebut digali kembali dari kuburnya setelah 3 jam di makamkan yang di saksikan oleh ayahnya .

The boy died in hospital and has been buried under the Islamic law and on the same day after obligatory ablution of the body.Pemuda tersebut meninggal dirumah sakit dan setelah di mandikan di makamkan secara islam di hari itu juga . However after funeral the father has doubted of the diagnosis of doctors and wanted to identify the true reason of his death. Tetapi setelah pemakaman ayahnya merasa ragu atas diagnosa dokter dan menginginkan untuk di identifikasi kebenaran penyebab kematianya. . The corpse of the boy has been dug out from a tomb in 3 hours after his funeral under the insisting of his father.. The boy died in hospital and has been buried under the Islamic law and on the same day after obligatory ablution of the body.. However after funeral the father has doubted of the diagnosis of doctors and wanted to identify the true reason of his death.

. The corpse of the boy has been dug out from a tomb in 3 hours after his funeral under the insisting of his father.. The boy died in hospital and has been buried under the Islamic law and on the same day after obligatory ablution of the body.. However after funeral the father has doubted of the diagnosis of doctors and wanted to identify the true reason of his death.

Relatives and his friends shocked when they saw the corpse. Seluruh kerabat dan teman - temannya begitu terkejut saat mereka melihat kondisi mayat . He was completely different within 3 hours. Mayat tsb begitu berbeda dalam 3 jam. He turned grey as the very old man, dia berubah tampak ke abu - abuan seperti orang yang sudah tua .
with traces of obvious tortures and the most severe beating, Dengan tampak jelas bekas siksaan dan pukulan yang amat keras and with the broken bones of hands and legs, with the edges broken a, nd pressed into a body. dan dengan tulang - tulang kaki dan tangan yang hancur begitu juga ujung ujungnya sehingga menekan kebadanya.

All His body and face were full of bruise. Seluruh badan dan mukanya memar. The open eyes-showed hopeless fear and pain .Matanya yang terbuka memerlihatkan ketakutan, kesakitan dan keputusasaan. The blood obviously attributes that the boy has been subjected to the most severe torture. Darah yang begitu jelas menandakan bahwa pemuda tersebut sedang mendapatkan siksaan yang amat berat.

Close relatives of the dead man have addressed to Islamic scientists who have unequivocally declared that it is available results of tomb torture which the Allah ( s.w.t) and in the Hadis of Prophet Muhammad (s.a.w) have warned. Sebagai penutup dari orang yang meninggal tersebut semuanya di tujukan kepada Ilmu pengetahuan tentang Islam yang mana tidak dapat dipungkiri lagi keterngananya bahwa siksa kubur itu benar adanya seperti yang di peringatkan oleh ALLAH SWT dan Nabi Muhammad S.A.W.

The shocked father of the boy has admitted that his son was spoilt, did not do Solat, and had a carefree way of life, having involved in different sins.

Each died person comes across tests in the tomb for exception Shahids who died in Jihad on the way of Allah. This is first terrible test which the person comes across before the Doomsday.

In Hadis of Prophet Muhammad (s.a.w):

- After the death the spirit of died person will return to a body then two Angels will come, Munkar and Nakir, and will ask: “Who is your Lord?” he will answer: “my Lord - Allah “. Then they will ask: “What is your religion?” he will answer: “My religion - Islam”. Then they will ask him: “Who that person who has been sent to you?” he will answer: “He is the Prophet of Allah “. Then they will ask him: “How do you know?” He will answer: “I read the Book of Allah and trusted Him.

And then from heavens the voice will come: ” My Slave has told the truth, lay it to bed from Paradise

and open the Gate of Paradise ” - then it will be full of pleasure and he begins to feel paradise pleasure, and his tomb becomes spacious, that eyes can reach.The Prophet of Allah Muhammad (s.a.w) said about the sinners. After the death the spirit of died person will return to the body then two Angels will come and ask, “Who is your Lord?” he will answer: “I do not know”. Then they will ask: ” Who that person who has been sent to you?” he again will answer: I “do not know” - and then from the sky the voice will come: “he told a lie, Put him into a box from fire and open before it the Gate of a hell! “-then it will be captured with heat of the hell, and his tomb becomes narrow and the edges will be compressed.

In Hadis it is also said, that Angels will severely beat the sinners during interrogation in the tomb and this torture will be awful. It is informed also, that our Messenger (s.a.w) supplicated to Allah to protect Him from tortures of a tomb and asked other people to do so.

The history of 18-year old young men is a sign for believers and this is only next fairy tale for whom hearts are sealed by Allah. They look and do not see, listen and do not hear?

This story was translated from other language into English. That s why I apologize in advance for mistakes.[mbah-marijan.com, milis]

Pemuda Argentina Temukan Islam Melalui Lirik Lagu Arab

Mariano Ricardo Calle namanya. Dia berasal dari Buenos Aires, Argentina. Sebelum masuk Islam, Mariano menganut agama Katolik Roma. Sejak kecil sudah dibaptis dan tinggal dalam suasana agama Kristen yang taat.

“Di masa remaja, aku sempat kena pengaruh narkotika. Itulah saat-saat dimana aku mulai mencari identitas diri dalam hidup,” kata dia mengenang. Kenal dengan Islam awalnya dari lirik lagu berbahasa Arab. Dia makin tertarik dan secara rutin mempelajari bahasa Arab dan juga Alquran. Akhirnya, Mariano mendapat hidayah dan pada Juli 2007 memeluk Islam. Berikut kisah lengkapnya. Inilah penuturannya:

“Aku tinggal dalam keluarga yang menganut paham Katolik Roma. Ajaran Kristen kuterima melalui perantaraan ibu dan nenek. Aku sudah belajar Bibel sejak usia tujuh tahun. Waktu itu aku belajar Bibel khusus untuk anak-anak dalam bahasa Spanyol. Pahlawan favoritku kala itu adalah Nabi Daud dan Nabi Nuh.

Ketika masuk usia sebelas tahun, aku biasa berdoa di malam hari bagi kebahagiaan hidupku. Kadangkala aku menangis tatkala bermunajah dengan Tuhan. Tapi di masa remaja, aku sempat jatuh ke lembah hitam. Kena pengaruh narkotika. Saat itu aku sudah masuk usia 21. Itulah saat-saat aku memulai pencarian identitas diri dalam hidup ini.

Memasuki usia ke-24 aku coba berdoa lebih sungguh lagi. Bahkan aku mengerjakannya sepanjang hari, 24 jam! Masing-masing untuk Tuhan Bapa dan Bunda Maria. Ini kulakukan selama setahun penuh. Tapi ternyata hal itu tidak banyak membantu. Hatiku masih resah.”

Tertarik lirik lagu Arab

“Satu ketika aku sedang mempelajari naskah kuno tentang piramid yang ditulis dalam bahasa Arab. Muncul keinginan belajar bahasa Arab. Satu ketika kudapati lirik-lirik lagu dalam bahasa Arab. Aku terkesan sekali dengan bahasa Arab dalam lirik lagu itu.

Akhirnya kucoba belajar secara mandiri lewat sebuah buku yang kuperoleh dari internet. Buku itu sangat membantu. Kesungguhan itu berbuah manis. Dalam dua pekan aku sudah dapat mengucap satu dua patah kata Arab. Alhasil, ketika kucoba ikutan tes di kampus aku langsung ditempatkan di level dua. Wah, hatiku sungguh sangat gembira..

Pernah pada saat ada pameran buku di kota kami, mama memberiku hadiah dua buah buku tentang Islam. Aku suka sekali dan membacanya hingga tuntas. Buku itu sangat menyentuh hatiku. terutama penjelasan-penjelasan tentang sains di dalam Al-Quran. Benar-benar menarik. Yang lebih menarik lagi ketika membaca profil Nabi Muhammad. Benar-benar pribadi idolaku.”

Tinggalkan minum alkohol

“Aku secara perlahan mulai meninggalkan rokok dan minum alkohol. Pokoknya semua yang berhubungan dengan alkohol kuenyahkan dari kehidupanku. Keputusan itu murni kubuat secara sadar. Bukan karena paksaan agama Islam yang sedang kupelajari. Kala itu, jujur saja, aku tak pernah berniat sama sekali untuk jadi seorang muslim.

Waktu terus berjalan. Aku ingin cepat bisa bahasa Arab. Kuputuskan untuk membeli Al-Quran. Tapi guruku memberitahukan di mesjid Palermo, dekat Buenos Aires ada dibagikan Quran secara gratis.

Tanpa menunggu lama, hari itu juga aku bergegas ke mesjid untuk meminta hadiah sebuah Al-Quran. O ya, aku sendiri belum tahu seperti apa mesjid itu. Pasti sebuah gedung yang menarik dan megah. Ternyata tidak begitu. Begitupun, menurutku, meski Argentina bukan negara Islam, mesjid itu merupakan gedung terindah di Amerika Latin.”

Belajar Alquran

“Di masjid aku berjumpa dengan seorang pria yang kemudian jadi karib terbaikku dalam Islam. Ibrahim namanya. Dia juga memberiku sebuah link di internet hingga aku bisa mendowload Al-quran dan belajar Islam melalui link itu.

Aku belajar membaca Al-Quran hasil download via internet tersebut. Aku print per halaman dan kupelajari. Untungnya lagi, ada terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Spanyol.

Sejak masa kanak-kanak aku sudah menamatkan seluruh isi Bibel sebanyak dua kali. Lalu kitab Gita dari India juga dua kali. Dan, sekarang Al-Quran harus bisa lebih baik lagi. Bahkan targetku harus bisa dalam bahasa Arab. Begitulah, awalnya aku hanya mau belajar bahasa Arab, tapi hatiku makin tertarik dan tersentuh untuk mempelajari Al-Quran setelah membacanya.

Alhamdulillah, aku bisa memperoleh sesuatu yang lain dalam Alquran. Ada bagian-bagian dari isi Alquran yang tidak disebutkan dalam Bibel. Hmm Alquran makin dibaca makin menarik saja. Kebenaran yang tertera di dalam Quran sangat sempurna. Inilah yang kucari-cari. Keinginanku untuk mencari siapa Tuhan telah membawaku ke jalur ini. Terima kasih Allah atas karunia ini!”

Bersyahadah

“Sejak saat itu aku mulai sering ke masjid. Dan, hanya dalam waktu dua pekan aku pun mengucapkan dua kalimah syahadah. Persis tanggal 14 Juli 2007. Imam mesjid, Syeikh Nasir asal Arab Saudi adalah salah satu saksinya.

Tak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan-Nya. Air mataku meleleh membasahi pipi. Aku mulai membaca apa saja tentang Islam guna menambah keyakinanku. Juga belajar bahasa Arab secara intensif di mesjid. Aku belajar aqidah, tauhid, dan berusaha menamatkan bacaan Al-quran. Aku ingin belajar secepat mungkin yang kubisa.

Saat berada di mesjid aku merasakan rasa damai yang tiada tara. Oya aku dulu pernah ikutan shalat ketika belum bersyahadah. Hanya kepingin tahu saja seperti apa sih rasanya shalat itu. Bagaimana rasanya berdiri di hadapan Tuhan. Begitulah, aku pun belajar tatacara shalat dan Alhamdulillah dalam waktu dua minggu sudah dapat mengerjakannya. Di mesjid pula aku jadi banyak dapat kenalan baru.”

Tak mau pacaran lagi

“Aku cinta bahasa Arab dan berdoa kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk bisa memahaminya dengan cepat. Selama bulan suci Ramadan aku sangat menikmatinya. Inilah pengalaman pertama yang sangat indah. Kurasa 2007 adalah tahun terbaik dalam hidupku. Oya sejak bersyahadah hingga saat ini aku tak pernah tinggal shalat sekalipun.

Nah hal yang sangat sulit bagiku adalah memutus hubungan dengan pacarku. Ya aku memang punya seorang pacar. Tapi aku benar-benar ingin menjalankan perintah Islam dan tak mau pacaran lagi. Akhirnya kutinggalkan dia secara baik-baik. Aku bermohon kepada Allah agar memberiku istri yang baik. Itulah kali pertama aku memohon sesuatu yang khusus kepada Allah.

Aku menceritakan pada kedua orangtua bahwa aku sudah masuk Islam. Ibu sedikit terkejut, namun aku tetap menjaga hubungan dengan keduanya. Aku tetap berkomunikasi dengan baik. Abang tak berkata apa-apa. Dia hanya melontarkan joke-joke lucu. Tapi itu tak masalah bagiku. Kutanggapi dengan joke juga.

Aku kemudian bekerja di sebuah perusahaan. Hari pertama kerja aku langsung menanyakan adakah tempat atau ruangan kecil untuk mengerjakan shalat. Alhamdulillah tak masalah aku diberikan keleluasaan untuk shalat. Hidupku makin hari makin berubah. Sangat indah rasanya, serasa damai. Kujalani hidup dengan senyum. Aku berinteraksi dan bersikap terbuka dengan setiap orang.

Oya reaksi rekan-rekanku macam-macam selepas aku memeluk Islam. Teman-teman karibku semuanya masih beragama Katolik. Kami masih bersahabat hingga kini. Mereka banyak bertanya tentang Islam. Kami sering terlibat diskusi lama dan aku menjawab semampunya. Makin hari pertanyaan mereka makin banyak. Ada seorang karibku yang kelihatannya sangat serius dengan Islam. Ia dan istrinya yang asal Brazil menganut paham Kristen Advent. Semoga mereka dapat petunjuk-Nya. Aku senantiasa berdoa kepada Allah agar dijadikan sebagai instrumen atau penyebab turunnya hidayah bagi orang lain. Terutama bagi kedua orang tuaku.”

Ibuku tak masak babi lagi

“Perkembangan lain, ibuku kini tak lagi memasak babi. Ibuku rupanya senang dengan perubahan sifatku yang tak lagi minum-minum dan mengkonsumsi narkoba. Hanya saja adikku masih berprasangka buruk padaku. Dia masih mencelaku karena masuk Islam. Semoga mereka segera mendapat hidayah. Amin.

Aku cinta Allah. Kecintaan itu melebihi cintaku pada keluargaku. Aku cinta Nabi Muhammad. Aku mencintainya melebihi cintaku pada semua orang. Dan, aku sangat mencintai agama Islam ini.

Alhamdulillah aku telah mendapat kebahagiaan hidup yang selama ini kucari-cari. Bahkan kini aku sedang menyiapkan pernikahan dengan seorang gadis yang dipilihkan oleh Alllah untukku. Thank Allah.”(sumber:hidayatullah)

Kisah Jenderal Adolf Roberto

Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara‘ itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu ‘jenggel‘ milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.

“Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…! ” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata.

Namun apa yang terjadi? 
Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.
Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.

Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata Rabbi, wa ana’abduka.. . Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustadz…Insya Allah tempatmu di Syurga.”
Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara‘ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai.

“Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu,aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu!
Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus.
Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ’suara-suara’ yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini.
Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami. ”

Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin.
Ia lalu berucap, “Sungguh…aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah.
Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk?
Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.”

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat diwajahnya.
Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh,
meluncur sebuah ‘buku kecil‘. Adolf Roberto bermaksud memungutnya.

 Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat.
“Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto.
”Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!“ucap sang ustadz
dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.

Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara‘ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh.
Mendadak algojo itu termenung. “Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini.” suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu…
Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu.

Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol.

Akhirnya Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam.
Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.

Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia.

Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi.
 Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan.

Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abayanya.

Sang bocah berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang.
Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi…”

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya.
Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya “Abi…Abi.. .Abi…“. Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

“Hai…siapa kamu?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah.

“Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…” jawab sang bocah memohon belas kasih.

“Hah…siapa namamu bocah, coba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka.

“Saya Ahmad Izzah…” sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi.

Tiba-tiba “plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. “Hai bocah…! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu.
Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu.
Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki-laki itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata.Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz.
Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam‘ ia berteriak histeris,
”Abi…Abi.. .Abi…“
. Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.
 Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam‘ pada bagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini.
 Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…”

Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.
 Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya.
Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya.

“Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu…” Terdengar suara Roberto memelas.

Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya.
 Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini.

Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Alloh.
 Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir.
Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdulloh Fattah Ismail Al-Andalusy.
Belajarlah engkau di negeri itu,“
 Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu alla Illaaha ilAlloh, wa asyahadu anna Muhammad ar-Rasullulloh. ..“.

Beliau pergi dengan menemui Rabbi-nya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang ‘alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya…

Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah…
”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS 30:30)

Sumber: Majalah Sabili tahun 1988